
Isu mengenai wanita melakukan perjalanan umroh tanpa mahram merupakan salah satu pembahasan fiqh yang paling sering ditanyakan oleh jamaah, khususnya di era modern. Pertanyaan ini tidak hanya muncul dari sisi hukum syariat, tetapi juga berkaitan dengan realitas sosial, keamanan perjalanan, serta kebijakan penyelenggaraan ibadah umroh saat ini.
Di satu sisi, terdapat dalil-dalil hadits yang secara tegas melarang wanita bepergian tanpa mahram. Di sisi lain, terdapat pula pandangan ulama yang memberikan keringanan dengan syarat-syarat tertentu, khususnya dalam konteks perjalanan ibadah yang aman dan terorganisir.
Artikel ini akan membahas persoalan tersebut secara ilmiah, objektif, dan beradab, dengan memaparkan dalil Al-Qur’an dan hadits, pendapat empat mazhab fiqh, serta penjelasan ulama kontemporer, agar kaum Muslimah dan keluarga dapat memahami persoalan ini secara utuh dan bijak.
Secara bahasa, mahram berasal dari kata harama yang berarti terlarang. Secara istilah syar’i, mahram adalah laki-laki yang haram dinikahi oleh seorang wanita secara permanen, baik karena hubungan nasab, persusuan, maupun pernikahan.
Allah ﷻ berfirman:
“Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu…”
(QS. An-Nisa: 23)
Contoh mahram bagi wanita antara lain ayah, saudara laki-laki, anak laki-laki, paman, mertua, dan anak tiri (dengan syarat tertentu).
Keberadaan mahram bukanlah bentuk pembatasan, melainkan perlindungan dan penjagaan kehormatan wanita. Syariat Islam sangat memperhatikan keselamatan, keamanan, dan kehormatan perempuan, khususnya dalam perjalanan jauh.
Terdapat sejumlah hadits shahih yang menjadi dasar utama pembahasan ini. Di antaranya sabda Rasulullah ﷺ:
“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk melakukan perjalanan selama satu hari satu malam kecuali bersama mahramnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahram.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits-hadits ini menjadi dalil utama bagi ulama yang melarang wanita bepergian jauh, termasuk umroh, tanpa didampingi mahram.
Mazhab Hanafi melarang wanita melakukan perjalanan jauh tanpa mahram, baik untuk haji maupun umroh, kecuali dalam kondisi darurat.
Menurut mazhab ini, keamanan perjalanan tidak menggugurkan kewajiban mahram, karena larangan dalam hadits bersifat umum dan tegas.
Mazhab Hanbali memiliki pendapat yang serupa dengan Hanafi, yaitu tidak membolehkan wanita melakukan haji atau umroh tanpa mahram, meskipun bersama rombongan wanita atau dalam perjalanan yang dianggap aman.
Imam Ahmad rahimahullah menegaskan bahwa mahram merupakan syarat bagi perjalanan ibadah wanita.
Mazhab Syafi’i memberikan rincian yang lebih longgar. Dalam mazhab ini:
Wanita boleh melaksanakan haji wajib tanpa mahram
Dengan syarat aman dan bersama rombongan terpercaya (wanita-wanita tsiqah)
Namun, untuk haji sunnah dan umroh, sebagian ulama Syafi’iyah tetap mensyaratkan mahram.
Pendapat ini didasarkan pada kaidah bahwa kewajiban haji tidak boleh gugur hanya karena ketiadaan mahram, selama keamanan dapat terjamin.
Mazhab Maliki juga membolehkan wanita melaksanakan haji wajib tanpa mahram, dengan syarat:
Perjalanan aman
Bersama rombongan terpercaya
Tidak menimbulkan fitnah
Namun, untuk umroh sunnah, pendapat yang lebih kuat dalam mazhab ini tetap menganjurkan adanya mahram.
Sebagian ulama kontemporer seperti Syaikh Yusuf Al-Qaradawi dan ulama Lajnah Fatwa modern membahas persoalan ini dalam konteks realitas zaman sekarang.
Mereka menilai bahwa:
Transportasi modern lebih aman
Sistem travel umroh terorganisir
Jamaah berada dalam pengawasan resmi
Namun, mayoritas ulama kontemporer tetap menegaskan bahwa keberadaan mahram adalah pendapat yang lebih selamat (ahwath), khususnya untuk umroh yang hukumnya tidak seketat haji wajib.
Penting untuk membedakan antara:
Haji wajib → terdapat keringanan menurut sebagian mazhab
Umroh → hukumnya sunnah menurut sebagian ulama
Karena umroh bukan rukun Islam, maka sebagian ulama memandang tidak layak mengambil rukhsah (keringanan) jika masih memungkinkan menghadirkan mahram.
Perbedaan pendapat dalam masalah ini merupakan khilaf fiqhiyah, bukan persoalan akidah. Oleh karena itu:
Tidak boleh saling menyalahkan
Tidak boleh menghakimi niat orang lain
Setiap Muslimah dianjurkan memilih pendapat yang paling menenangkan hati dan aman
Imam Nawawi rahimahullah berkata:
“Tidak boleh mengingkari masalah yang diperselisihkan ulama.”
Bagi Muslimah yang berniat melaksanakan umroh, sikap bijak yang dianjurkan adalah:
Mengutamakan pendapat yang lebih hati-hati
Berkonsultasi dengan ulama atau pembimbing ibadah
Mempertimbangkan kondisi pribadi dan keamanan
Menghindari sikap memaksakan diri
Jika mahram memungkinkan untuk ikut, maka itu lebih utama dan lebih selamat menurut mayoritas ulama.
Penyelenggara perjalanan umroh memiliki peran penting dalam:
Memberikan edukasi fiqh yang benar
Menjelaskan perbedaan pendapat ulama dengan adab
Tidak mengarahkan jamaah pada pendapat yang kontroversial demi komersial
Mengedepankan keamanan dan kenyamanan jamaah wanita
Travel profesional akan membantu jamaah mengambil keputusan berdasarkan ilmu, bukan sekadar kemudahan.
Persoalan wanita melaksanakan umroh tanpa mahram merupakan masalah fiqh yang memiliki perbedaan pendapat di kalangan ulama. Hadits-hadits shahih menunjukkan pentingnya mahram dalam perjalanan wanita, sementara sebagian mazhab memberikan keringanan dengan syarat keamanan dan kepercayaan rombongan, khususnya dalam haji wajib.
Dalam menyikapi perbedaan ini, sikap yang paling utama adalah mengutamakan kehati-hatian, menjaga adab, dan mengikuti pendapat yang paling menenangkan hati serta selamat dari khilaf. Setiap Muslimah dianjurkan untuk bermusyawarah dengan keluarga dan pembimbing ibadah sebelum mengambil keputusan.
Guzel Tour berkomitmen untuk mendampingi jamaah wanita dengan pendekatan ilmiah dan bertanggung jawab, memberikan edukasi fiqh secara jujur, serta mengutamakan keamanan, kenyamanan, dan ketenangan ibadah. Dengan bimbingan yang sesuai tuntunan syariat dan pendampingan profesional, Guzel Tour berupaya menjadi mitra aman bagi setiap langkah ibadah menuju Baitullah.
Semoga artikel ini memberikan pemahaman yang jernih dan menjadi rujukan yang bermanfaat.
Wallahu a’lam bish-shawab.