Jum’at, 19 Desember 2025 Ditulis oleh Staff Guzel Tour

Perjalanan atau safar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Dalam Islam, safar bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, melainkan aktivitas yang memiliki dimensi ibadah, adab, dan hukum tersendiri. Oleh karena itu, Islam memberikan panduan yang jelas mengenai niat dan adab sebelum melakukan perjalanan, agar setiap langkah seorang Muslim bernilai ibadah dan mendapat keberkahan dari Allah ﷻ.
Baik perjalanan untuk menunaikan ibadah Umroh, haji, menuntut ilmu, berdagang, maupun wisata halal, semuanya hendaknya diawali dengan niat yang benar dan dijalani sesuai tuntunan syariat. Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkan adab safar, bahkan menjadikannya bagian dari pendidikan akhlak umat Islam.
Artikel ini akan mengulas secara komprehensif tentang niat perjalanan dalam Islam, adab sebelum, selama, dan setelah safar, serta hikmah di balik tuntunan tersebut berdasarkan Al-Qur’an, hadits, dan penjelasan para ulama.
Secara bahasa, safar berarti bepergian atau meninggalkan tempat tinggal menuju tempat lain. Dalam istilah fiqh, safar adalah perjalanan yang menempuh jarak tertentu sehingga menimbulkan konsekuensi hukum, seperti:
Bolehnya mengqashar dan menjama’ shalat
Bolehnya berbuka puasa Ramadhan
Berlaku hukum-hukum khusus terkait adab dan keselamatan
Islam memandang safar sebagai kondisi yang memerlukan perlindungan khusus dari Allah ﷻ, karena di dalamnya terdapat kelelahan, risiko, dan godaan.
Allah ﷻ berfirman:
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya.”
(QS. Al-Mulk: 15)
Ayat ini menunjukkan bahwa perjalanan diperbolehkan dan bahkan dianjurkan dalam rangka:
Mencari rezeki halal
Menuntut ilmu
Mengambil pelajaran dari ciptaan Allah
Menunaikan ibadah
Namun, nilai safar dalam Islam sangat bergantung pada niat dan adab pelakunya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjadi kaidah utama dalam Islam. Perjalanan yang sama bisa bernilai ibadah atau justru bernilai dosa, tergantung pada niat yang melandasinya.
Contoh:
Safar untuk Umroh dengan niat ibadah → bernilai pahala
Safar untuk maksiat → bernilai dosa
Safar wisata dengan niat menyegarkan diri agar lebih taat → bernilai kebaikan
Seorang Muslim dianjurkan untuk bertanya pada dirinya sendiri sebelum berangkat:
Apakah perjalanan ini diridhai Allah?
Apakah caranya sesuai syariat?
Apakah dampaknya mendekatkan diri kepada Allah?
Imam Al-Ghazali rahimahullah menekankan bahwa niat yang benar akan mengubah aktivitas duniawi menjadi ibadah.
Dalam perjalanan ibadah seperti Umroh dan haji, niat memiliki kedudukan yang sangat penting. Kesalahan niat, seperti riya’ atau mencari popularitas, dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala.
Allah ﷻ berfirman:
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Sebelum safar, seorang Muslim dianjurkan untuk:
Shalat sunnah safar
Berdoa memohon perlindungan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika salah seorang dari kalian hendak bepergian, maka hendaklah ia mengucapkan doa…”
(HR. Muslim)
Doa sebelum safar mencerminkan ketergantungan seorang hamba kepada Allah ﷻ.
Ridha Allah ﷻ sangat berkaitan dengan ridha orang tua. Oleh karena itu, meminta izin dan doa dari orang tua sebelum bepergian adalah adab yang sangat dianjurkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua.”
(HR. Tirmidzi)
Islam mengajarkan agar seorang Muslim:
Menyelesaikan hutang
Menitipkan amanah
Menulis wasiat jika diperlukan
Hal ini menunjukkan sikap tanggung jawab dan kehati-hatian sebelum safar.
Safar adalah waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak dzikir dan doa. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tiga doa yang mustajab, salah satunya adalah doa orang yang bepergian.”
(HR. Abu Dawud)
Dzikir membantu menjaga hati agar tetap terhubung dengan Allah ﷻ di tengah kesibukan perjalanan.
Perjalanan sering kali melelahkan dan memicu emosi. Islam menekankan kesabaran dan akhlak mulia selama safar.
Allah ﷻ berfirman:
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)
Menjadi Muslim dalam safar berarti:
Menjaga lisan
Menghormati sesama
Menghindari pertengkaran
Dalam perjalanan, seorang Muslim tetap terikat dengan hukum syariat, seperti:
Menjaga aurat
Menghindari khalwat
Menjaga interaksi dengan non-mahram
Safar bukan alasan untuk melonggarkan aturan agama.
Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk bersyukur setelah kembali dari perjalanan dengan membaca doa dan memuji Allah ﷻ.
Keselamatan dalam safar adalah nikmat besar yang sering luput disadari.
Safar yang baik seharusnya meninggalkan bekas positif:
Bertambahnya keimanan
Bertambahnya ilmu
Meningkatnya rasa syukur
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata bahwa amal yang diterima akan melahirkan amal kebaikan berikutnya.
Islam tidak menetapkan adab safar tanpa tujuan. Di balik tuntunan tersebut terdapat hikmah besar, di antaranya:
Menjaga keselamatan jiwa
Menumbuhkan kesadaran spiritual
Melatih tawakal
Menjaga kehormatan diri sebagai Muslim
Safar menjadi sarana pendidikan akhlak dan keimanan bagi seorang hamba.
Demikian pembahasan mengenai adab dan niat perjalanan dalam Islam sebagai panduan bagi setiap Muslim sebelum melakukan safar. Perjalanan bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ melalui niat yang lurus, adab yang terjaga, dan ketaatan terhadap syariat. Dengan memahami dan mengamalkan tuntunan ini, safar akan berubah menjadi ibadah yang bernilai dan penuh keberkahan.
Bagi Anda yang merencanakan perjalanan ibadah maupun wisata halal, persiapan yang matang dan pemahaman syariat merupakan langkah awal yang penting. Memilih penyelenggara perjalanan yang aman, resmi, dan berpengalaman akan membantu Anda menjalani safar dengan lebih tenang dan terarah. Guzel Global Tour siap mendampingi perjalanan Umroh dan wisata halal Anda dengan program yang terencana, pendampingan profesional, serta pelayanan yang mengutamakan kenyamanan dan kepatuhan terhadap nilai-nilai Islam.
Semoga setiap perjalanan yang ditempuh menjadi jalan kebaikan dan ibadah di sisi Allah ﷻ.
Semoga bermanfaat.